L-エル-(2016) | Movie Review


L, I decided to be a painter. I decided to draw your smile. No matter how sad you are, no matter how lonely you are, I hope you will not forget to smile.

Film yang berjudul "L" ini sebenarnya bukan termasuk salah satu film yang ingin kutonton sebelumnya. Pas lagi surfing di youtube, aku gak sengaja ketemu fanmade mv yang menceritakan pairing yang ada di film iniㅡL dan Ovesu. Aku langsung jatuh cinta dengan sinematografi-nya dan langsung mencari info mengenai film ini. Film ini dibintangi oleh Hirose Alice (Hyouka: Forbidden Secrets, Seigi no Se, Warotenka), Furukawa Yuki (Itazura na Kiss: Love in Tokyo, 5-ji Kara 9-ji Made, Love Rerun), Takahashi Maryjun (Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, Heroine Disqualified, Good Morning Call: Our Campus Days), Hiraoka Yuta (Dear Sister, Tokyo Tarareba Masume), dan masih banyak yang lainnya.

Saat sedang mencari info tentang movie yang satu ini, jujur aku agak mengalami kesulitan karena aku sendiri tidak menemukan sinopsis yang pas untuk menjelaskan film ini secara general. Yang selalu tertulis hanyalah fakta bahwa film ini menceritakan tentang kisah dari L sendiri, yang perankan oleh Hirose Alice, yang sedang 'mencari cinta'. Film ini juga dikatakan diadaptasi dari satu dari album yang berjudul sama dengan film ini yang dinyanyikan oleh vokalis sebuah band rock "Janne de Arc" dalam projek solonya. See?Sama sekali gak ada penjelasan konkrit mengenai filmnya sendiri, dan itu sempet bikin aku males nontonnya. Tetapi mungkin karena mood aku lagi bagus buat nonton film beginian, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menontonnya terlebih dahulu.




Film ini menceritakan tentang L (Hirose Alice), seorang gadis yang dari kecil selalu mengalami penderitaan dan selalu bersedih. Awalnya L adalah anak yang ceria, namun semua itu berubah saat ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya meninggal akibat insiden tenggelamnya kapal yang mereka tumpangi. Berawal dari situ, L pun ternyata mendapatkan child abuse dari bibinya, dan berubah menjadi orang yang jarang tersenyum. Kemudian, diceritakan L memiliki seorang teman, yang bernama Ovesu (Furukawa Yuki). Ovesu memutuskan untuk menjadi seorang pelukis, dan menghabiskan hari-harinya melukis L, hanya saja lukisannya tidak pernah berubahOvesu selalu menggambar L yang sedang tersenyum.

Selain itu, paman yang mengadopsi L ternyata terobsesi dengan L dan bahkan mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. L pun akhirnya kabur dari tempat tinggalnya, dan dari sinilah perjalanan L 'mencari cinta' dimulai.
Di dalam film ini, L bertemu dengan 3 laki-laki yang menawan hatinya. Dan mungkin ini letak hal yang membuat film ini semakin bernuansa gelap, karena ternyata, TIDAK ADA SATUPUN yang berhasil membawa L menuju kebahagiaan. Film "L" yang menurutku kadang terasa sedikit teatrikal ini mengusung tema perdongengan yang membawa heroine kita dalam suatu perjalanan yang tragis dan menyedihkan. Elemen fantasi yang mendominasi sepanjang film ini berputar sangatlah membantu, dan aku suka dengan 'gelap-nya' film ini diusung. It was depressing, but a good kind of one.

Lebih daripada 'mencari cinta', aku pikir yang dicari L dalam perjalanannya ini adalah suatu hal yang sederhanakebahagiaan. Di sepanjang film, kita akan menemukan bahwa karakter L adalah karakter yang benar-benar penuh kesedihan dengan banyaknya rintangan yang ia hadapi, and it makes me want to root for her so much. Hirose Alice jelas berhasil menghidupkan karakter L dengan sangat baik, dan jujur saja aktingnya sempat mengingatkanku dengan akting dari saudaranya, Hirose Suzu, dalam film Sensei! yang dibintanginya bersama Ikuta Toma. Aku suka akting kedua saudara ini, dan aku pikir mereka punya potensi untuk jadi aktris muda yang sukses di Jepang sana dengan talenta yang mereka miliki.

Dalam film ini, jujur sama sekali gak ada yang namanya bad casting. Semuanya bagus dan bakal memorable dengan peran mereka masing-masing, sekecil apapun itu. Props juga buat Hiraoka Yuta dan Takahashi Maryjun yang menurutku memerankan peran mereka dengan SANGAT BAIK, dan membuatku semakin depresi saat menonton film ini HAHAHAHA. Akting mereka di film ini yang paling membuat kesan film ini semakin teatrikal, apalagi diiringi dengan latar musik yang mengalunkan piano duh. THEY DID REALLY WELL, HONESTLY.

Saat aku menonton kembali film ini untuk mengambil screenshot buat review ini, aku seperti mengerti konsep apa yang ingin dibawakan dalam film ini. Dalam filmnya, L selalu menggumamkan cerita dongeng Cinderella, yang pada akhirnya dijemput oleh seorang pangeran dan hidup bahagia selamanya. Kurasa, film 'L' dalam aspek tersebut ingin menceritakan kisah dongeng yang 'berbeda' yang menampilkan segi realistis dari kisah Cinderella itu sendiri. Bahwa, tidak seperti dongeng kesukaannya, L tidak mendapati seorang pangeran tampan mencarinya dengan sepatunya yang hilang, dan tidak ada definisi 'bahagia' sepanjang hidupnya. Dan saat menyadari teori yang satu itu, aku jadi makin sedih setelah nontonnya T.T

Jujur aja, aku bener-bener gasuka nonton film sedih kaya gini, tapi yang satu ini BEDA. Gatau juga sih bedanya apa, tapi sedihnya terasa lebih seperti sebuah fantasi dongeng, walaupun tetap menusuk hati T.T Sekali lagi, akting Hirose Alice disini bener-bener menunjang banget untuk film ini bisa jadi sebagus ini, and I wanna applause her for that!Yay!

Selain yang diatas, yang pasti pengen aku komen lagi gak lain adalah sinematografi-nya. Serius cantik banget!CGI-nya masih kaya standar sih, tapi benar-benar bikin ini film keliatan seperti sebuah dongeng fantasi dan menambah efek melankolis yang emang diperluin untuk film ini. Kebanyakan tone dari film ini juga gelap, apalagi saat ada L & Ovesu. Sebenernya sih menurutku pasti ada konotasi mengenai kenapa setting-an saat adegan L & Ovesu selalu terkesan gelap, tapi menurutku kalian harus nonton sendiri deh untuk bisa ngegali teori-teori baru soal film yang satu ini, karena alur ceritanya pas di awal agak ambigu, dan juga gaada keterangan waktu yang jelas di film ini.

DAN YANG TERAKHIR TENTU SAJA AKU MAU NGEBAHAS: Ovesu. Alasan kenapa aku bahkan mau noleh ke film ini yang cuma satu: Furukawa Yuki. Aku sebagai seorang penonton drama yang sudah lama vakum dari dunia perdramaan /apaan sih/ itu udah jarang banget nonton drama. Drakor udah ngebosenin dari tahun lalu, dan aku juga kayak udah capek nonton yang begitu-begitu aja. Makanya sekarang aku lagi gencar-gencarnya nonton hal-hal yang berbau SELAIN korea. Beberapa waktu yang lalu, gara-gara (lagi-lagi) ngeliat fanmade mv di Youtube, aku jadi tertarik untuk rewatch Itazura na Kiss: Love in Tokyo. Dan TERNYATA OH TERNYATA, aku tiba-tiba kaya suka banget sama dorama yang satu itu >< Furukawa Yuki & Honoka Yahagi duh T.T Aku sampe berulang-ulang nontonin dua season-nya Itakiss LIT selama BERHARI-HARI tanpa bisa move on T.T Dan aku juga nonton film ini akhirnya pure buat Yuki sendiri hehe.

Dari fanmade mv yang aku tonton sendiri sih aku udah tahu kalo karakter Ovesu disini jelas bukan karakter yang 'happy-all-the-time'. Malah aku merasa, melebih L, aku lebih kasihan sama Ovesu, yang tanpa tahu waktu, dan tanpa L sadari, selalu mengharapkan yang terbaik buat Lberharap L akan mendapatkan kebahagiaannya dan selalu tersenyum. Dan Ovesu jadi karakter favoritku karena kisah dia yang selalu setia sama L huhu T.T Ya coba bayangin aja yah, selama masa hidupnya, yang jadi objek lukisan Ovesu itu cuma satu; lukisan saat L tersenyum. Bahkan saat diceritakan bahwa L meninggal bunuh diri (padahal aslinya L pura-pura supaya bisa kabur dari pamannya yang terobsesi sama dia dan bibinya yang membeci dirinya), yang diperlihatkan saat ada adegan Ovesu hanya dia yang melakukan kegiatannya sehari-hari di lingkungannya yang nyaris selalu 'gelap'. Aku salut dengan kesetian Ovesu terhadap L, dan bagaimana ia selalu mengingat L walaupun L sendiri sibuk mencari kebahagiaannya di luar sana T.T

Pokoknya, film 'L' ini memang patut diberikan applause dengan cara penceritaannya yang mirip seperti dongeng yang terasa teatrikal dengan elemen fantasi yang ditaruh sana-sini tanpa menganggu alur ceritanya. 'L' jelas bukan film yang memancarkan hopefulness, tapi aku percaya ending 'L' sendiri berusaha menyampaikan bahwa kebahagiaan itu gak harus dijauh-jauh dan tidak selamanya terlihat dengan 'jelas'. Layaknya Ovesu yang gak pernah mengumbarkan eksistensinya disamping L, dan hanya bisa menyurahkan harapannya atas kebahagiaan L lewat lukisannya yang menggambarkan senyuman L tanpa henti-hentinya. Seperti Ovesu yang berusaha merubah dunia L menjadi lebih 'berwarna' walaupun sudah ditinggal L berpuluh tahun lamanya. Duh, pokoknya film yang satu ini emang recommended banget menurutku!

All in all, 'L' adalah sebuah film yang mencoba membawakan dongeng yang jelas tidak mengusung 'happily ever after' tetapi lebih ke bagaimana jika elemen-elemen yang ada di dongeng tersebut menyuarakan sisi realitas yang ada yang kemudian berakhir dengan sebuah harapan mengenai kehidupan seseorang yang selalu mencari kebahagiaan, hanya untuk kembali ke tempatnya semula dan menyadari apa yang dicarinya selama ini. 'L' dari aspek sinematografis, musik, cerita, dan bahkan penokohannya merupakan film yang layak dicoba walaupun tidak menawarkan aspek orisinalitas yang mencengangkan, namun tidak juga terasa klise dalam segi penceritaannya. 

Watch it right away, and hopefully you'd love it as much as I do.

9 out of 10 stars for this!

Sampai ketemu di postingan berikutnya, hehe.


Minggu, 22 April 2018 // 11:55 PM
Kei

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.